Author: Genre:
Rating

Festival Teluk Jailolo (2009-2014)

 

Mei adalah momentum. Dalam gugus sejarah Indonesia, Mei dikenang sebagai tonggak penting kebangkitan kebudayaan di mana proyek kebangsaan dipahat dan keragaman didialogkan, sebagaimana Agustus dijadikan momentum kelahiran negara. Mei adalah nation, bangsa dan Agustus adalah state, negara. Kita kemudian mengenal dua istilah ini diringkus dalam satu pengucapan: nation-state.

Dalam konteks Halmahera Barat, Mei dipahami sebagai kebangkitan kultural, semangat ksatria, dan perayaan kesadaran baru; Mei adalah sebuah festival. Di bulan ini, kegembiraan diringkus dalam festival budaya. Sebuah perjumpaan yang menampilkan keberagaman adat dan budaya dari pluralitas suku dengan latar bahari. Festival Teluk Jailolo (FTJ), demikian festival budaya itu diberi nama dan diselenggarakan pemerintah Kabupaten Halmahera Barat di Jailolo, kemudian menjadi ritus baru merayakan asal dan mendialogkan keragaman dalam kultur bahari yang panjang.

Mula-mula festival teluk ini ingin meletakkan Jailolo dalam kosmos dunia perairan yang menjorok ke daratan. Teluk, lantaran letaknya yang strategis, banyak dimanfaatkan sebagai ikon pariwisata bahari dan sekaligus transaksi maritim (dermaga). Dengan paras dan peruntukan seperti itulah dunia mengenal Teluk San Francisco di Amerika Serikat, Teluk Guantanamo di Kuba, dan Teluk Persia di Jazirah Arab. Atau dalam konteks Indonesia, ada Teluk Cenderawasih di Papua, Teluk Tomini di Sulawesi Tengah, Teluk Bone di Sulawesi Selatan, dan Teluk Benoa di Bali.

 

Halamahera Barat menjadikan Teluk  Jailolo sebagai ikon bahari; bukan saja karena pesona keindahaan alamnya, melainkan karena teluk ini memiliki posisi geopolitik yang srategis sebagai pintu masuk bagi transaksi ekonomi, praktik politik, dan perjumpaan sosial di Halmahera Barat.

Istilah bahari tak sekadar laut; dan sekaligus lebih luas dari sekadar frasa maritim. Maritim adalah istilah untuk merujuk pada perniagaan yang berbasis laut (pengertian ekonomi). Frasa bahari yang dikenal dalam kamus merujuk pada tiga aspek penting; masa silam (warisan), perniagaan laut (ekonomi maritim), dan keindahan (seni). Halmahera yang merupakan satu gugusan Kepulauan Maluku adalah masa silam di mana dunia mengenalnya sebagai Pulau Rempah abad 16 dan 17 yang masyhur. “Estas quarto Ilhas Azures suam as de molluquo homde nace ho crauzo,” tulis Fransisco Rodriguez sebagaimana dinukil Tome Pires dalam Suma Oriental.

 

Dengan rempah-rempah kualitas terbaik inilah bangsa-bangsa Eropa datang memperebutkannya. Bahkan bibit cengkeh dan pala yang merupakan tanaman-tanaman rempah endemik dibudidayakan di koloni-koloni Prancis seperti Zanzibar, Madagaskar, dan Martinique. Dan bagi Kesultanan Jailolo di masa silam, kawasan subur ini dijadikan lumbung pangan untuk kesejahteraan. Oleh karena itu, Jailolo hari ini adalah warisan masa silam dari sebuah sejarah panjang jaya runtuhnya sebuah peradaban.

Laut yang menjadi transportasi utama perairan Halmahera dan daerah-daerah sekitarnya membentuk Teluk Jailolo menjadi ikon perekonomian maritim. Kapal-kapal yang bersandar di dermaga dan kesibukan pasar tepian air menjadi lanskap dari mana kita menyaksikan denyut ekonomi bekerja secara dinamik. Gerak dinamik seperti itu bisa kita temui dalam tari-tari dan musik warisan leluhur di daratan Halmahera ini. Sebuah perpaduan keindahan alam, semangat pantang menyerah, dan kultur keterbukaan.

Tiga lanskap itu yang melatari festival bahari di Teluk Jailolo ini yang menjadikannya sebagai ikon kebudayaan baru. Semangat keragaman, perdamaian, dan penghormatan pada asal, keterbukaan pada kekinian, dan sensivitas pada masa depan itu kita temukan dalam Festival Teluk Jailolo yang digeber dalam format kolosal dan dalam pelaksanaannya hingga 2015 dikunjungi paling kurang 30 ribu pengunjung dari pelbagai lapisan masyarakat: lokal, nasional, maupun internasional.

Festival Teluk Jailolo kini telah menjadi destinasi dan tongak pariwisata Halmahera Barat. Dengan jalan Festival, Pemda Halbar menunjukkan kepada dunia luar bahwa kreativitas atau sumber daya budi Halmahera Barat belumlah redup. Festival Teluk Jailolo tidak sekadar peristiwa kebudayaan biasa untuk semata pariwisata. FTJ adalah jalan perdamaian di mana ketahanan kultural menjadi elemen terpentingnya. FTJ bukan hanya menjadi benteng preservasi cultural knowledge etnos-science, tapi juga merupakan pahatan jiwa baru bagi masyarakat Halmahera Barat Maluku Utara. Bahkan, Indonesia Raya.

Inilah buku yang merangkum kegiatan Festival Teluk Jailolo dari tahun 2009-2015.

 

Leave a Reply